Wayang Kulit

Diposting oleh LAREMA on Rabu, 01 Mei 2013





WAYANG KULIT, yaa tak asing lagi bila kata tersebut terdengar di telinga,
Wayang kulit salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In¬donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem¬perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

Sejarah

Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata 'Ma Hyang' yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna 'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.
Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.

Pembuatan

Wayang kulit dibuat dari bahan kulit kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda.
Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan yang bront.

Istilah dalang dalam pewayangan

Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun - temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk di belakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.
Wayang Kulit sebagai Media Penyebaran Islam
Pada periode penyebaran agama Islam di Jawa, para muballigh (wali songo) dalam menjalankan dakwah Islam telah memakai alat berupa wayang kulit. Salah seorang wali songo yang piawai memainkan wayang kulit sebagai media penyebaran Islam adalah Sunan Kalijaga. Mengingat cerita itu sarat dengan unsur Hindu-Budha, maka Sunan Kalijaga berusaha memasukkan unsur-unsur Islam dalam pewayangan. Ajaran-ajaran dan jiwa keIslaman itu dimasukkan sedikit demi sedikit. Bahkan lakon atau kisah dalam pewayangan tetap mengambil cerita Pandawa dan Kurawa yang mengandung ajaran kebaikan dan keburukan.

Nyoman S.Pendit mengemukakan bahwa:

“Demikianlah dalam kepercayaan Hindu, epos Mahabharata juga dikenal sebagai kitab Weda yang ke-V (Rigweda ke-I, Samawda ke-II, Yayurweda ke-III, dan Atharwaweda ke-IV), lebih-lebih karena mengandung Bhagawadgita, yang dipandang sebagai Al-Qur’an atau kitab Injilnya penganut agama Hindu, ….)
Kondisi inilah yang mendorong para muballigh merombak bentuk wayang kulit dan memasukkan unsur baru berupa ajaran Islam dengan membuat “Pakem Pewayangan Baru”nsur baru berupa ajaran Islam dengan membuat “Pakem Pewayangan Baru” yang bernafaskan Islam, seperti cerita Jimat Kalimasodo, atau dengan cara menyelipkan ajaran Islam dalam pakem pewayangan yang asli. Dengan demikian masyarakat yang menonton wayang dapat menerima langsung ajaran Islam dengan sukarela dan mudah.4)
Menurut adat kebiasaan, setiap tahun diadakan perayaan Maulid Nabi di serambi Masjid Demak yang diramaikan dengan rebana (terbangan), gamelan dan pertunjukan wayang kulit. Untuk menarik rakyat, di serambi dihiasi beraneka ragam hiasan bunga-bungaan yang indah.

Untuk mengumpulkan masyarakat di sekitar, pertama-tama ditabuhlah gong bertalu-talu yang suaranya kedengaran dimana-mana. Kebiasaan masyarakat Jawa pada masa itu apabila mendengar bunyi-bunyian, mereka pun berdatangan. Mereka masuk melalui gapura yang dijaga para wali. Kepada mereka dikatakan bahwa siapa saja yang mau lewat gapura dosanya akan diampuni sebab dia telah masuk Islam. Dengan catatan bahwa orang yang memasuki gapura harus membaca syahadat. Setelah mengambil air wudhu di sebelah kiri kolam, mereka dibolehkan masuk masjid untuk mendengarkan cerita-cerita wayang gubahan para wali yang bernafaskan nilai-nilai keIslaman. Bila waktu shalat tiba, mereka diajak shalat dipimpin oleh wali.

Dalam pertunjukan wayang, dalang mempunyai peranan paling utama sehingga mereka harus menguasai teknik perkeliran (pertunjukan wayang kulit) dengan baik di bidang seni sastra, seni karuwitan, seni menggerakkan boneka-boneka wayang kulitnya, maupun penjiwaan karakter wayang serta harus terampil dalam membawakan lakon-lakon.6)
Dalang sebagai juru dakwah harus mampu melaksanakan tugasnya dalam memberi penerangan agama. Untuk melaksanakan tujuan dakwah melalui pewayangan dan agar mudah diterima oleh masyarakat, maka para muballigh menggunakan simbol atau filsafat.
Wayang kulit penuh dengan simbolik. Dalam pertunjukannya menggambarkan perjalanan hidup manusia, yakni manusia yang mencari keinsyafan akan sangkan-parannya, bukan manusia yang hanya hidup dan tidak mati.7) Gambaran yang jelas dapat dilihat dari struktur lakon yang dibawakan oleh dalang yakni menceriterakan perjalanan hidup salah satu tokoh pewayangan.

Pada cerita “Jimat Kalimosodo”, bahwa Jimat Kalimosodo adalah senjata ampuh milik Prabu Darmokusumo (Yudistira). Dalam cerita dilukiskan Puntadewa sebagai seorang raja yang berbudi pekerti luhur sebagai manifestasi kalimat syahadat yang selamanya mengilhami kearifan dan keadilan. Jimat ini dimiliki oleh keluarga yang baik, seperti keluarga Pandawa. Istilah Pandawa Lima sering diartikan sebagai rukun Islam yang lima.
Salah satu perlengkapan wayang yang disebut Gunungan atau Kayon memiliki makna simbolis. Kayon menyerupai bentuk masjid, apabila dibalik akan menyerupai jantung manusia. Hal ini mengandung falsafah bahwa dalam kehidupan umat Islam, jantung hatinya harus senantiasa berada di masjid.
Kreativitas para wali memanfaatkan budaya setempat sebagai media penyebaran Islam yang efektif tersebut, telah mempercepat pertumbuhan dan perkembangan Islam di Jawa. Selain itu para wali juga berjasa dalam mempopulerkan seni wayang sebagai bentuk kesenian pentas yang merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang telah berakar jauh ke masa lalu dan cukup banyak mengalami pertumbuhan dan penyempurnaan dari masa ke masa.

http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_kulit
http://www.tuanguru.com/2011/12/wayang-kulit-media-penyebaran-islam.html
http://budayawayangkulit.blogspot.com/2009/01/wayang-kulit-wayang-salah-satu-puncak.html



Nama   : Maulana Akhsani
Kelas  : 2db05
Matkul : Pendidikan Kewarganegaran  
Tema   : Wawasan Nusantara 
Judul  : Wayang Kulit





Penulis: LAREMA Lokasi: Kota Pemalang, Jawa Tengah

Artikel Wayang Kulit, diterbitkan oleh LAREMA pada hari Rabu, 01 Mei 2013. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan Anda. LAREMA adalah blogger pemula yang mencoba mempublish informasi yang bermanfaat, Thanks for visit in larejaler.blogspot.com.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar